Translate

Friday, 3 April 2020

Review Film Sultan Agung, Film Sejarah Kebanggaan Hanung Bramantyo

Film Sultan Agung adalah film karangan sutradara terkenal yang tidak perlu diragukan lagi keahlian dalam membuat film. Yap! Hanung Bramantyo. Sutradara kelahiran Yogyakarta ini berhasil menggarap film sejarah berjudul "Sultan Agung: Tahta, Perjuangan, Cinta" dan mememperoleh lebih dari satu juta penonton di layar kaca. Meskipun sudah banyak orang yang membahas film ini, saya ingin membahasnya leih dalam di tahun 2020.


Sinopsis Film


Setelah ayahnya, Panembahan Hanyokrowati wafat, Raden Mas Rangsang yang masih remaja menggantikannya dan diberi gelar Sultan Agung Hanyakrakusuma. Ini adalah sebuah tanggung jawab yang tidak mudah. Sultan Agung harus menyatukan adipati-adipati di tanah Jawa yang tercerai berai oleh politik VOC yang dipimpin oleh Jan Pieterszoon Coen, di bawah panji Mataram. Di sisi lain, ia harus mengorbankan pula cinta sejatinya kepada Lembayung dengan menikahi perempuan ningrat yang bukan pilihannya.


Proses Produksi


Dalam proses pembuatannya, Hanung telah menyiapkan segalanya. Mulai dari lokasi, hingga dialog jawa yang amat sangat halus "krama" telah dipersiapkan dengan sangat matang. Hanung juga telah memilih aktor dan aktris yang tepat untuk memainkan perannya masing - masing. Meskipun demikian, sebagian orang menganggap beberapa aktror dan atau aktris dinilai kurang cocok dan fasih dalam berbahasa jawa. Lokasi yang dipilih sebagai tempat syuting film juga sangat cocok dan dinilai memukau.


Pengenalan Tokoh yang Sangat Baik

Pada pembukaan film, penonton disuguhkan masa muda Raden Mas Rangsang (Marthino Lio) di padepokan tempat ia menuntut ilmu agama dan ilmu lainnya yang ditinggalkan oleh Kanjeng Sunan Kalijaga dan diajar oleh Ki Jejer (Deddy Sutomo).
Selain itu, penonton juga disajikan dengan kisah cinta Raden Mas Rangsang dan Lembayung (Putri Marino)yang cukup unik dan menarik. Ada beberapa scene yang dapat menghibur penonton dengan keseruan dan kelucuannya. 

Menurut saya, ini suatu inovasi baru dari film karya Hanung Bramantyo. Dalam bagian pembukaan, Marthino Lio, PutriMarino,dan Deddy Sutomo mampu mengantarkan penonton ke suasana zaman mataram dengan bahasa jawa yang sangat baik dan cukup memukau. Saya sempat dibuat kagum dengan akting Putri Marino yang benar - benar menguasai karakter spenuhnya.
Hanung berhasil menambahkan detail - detail dimana bagi sebagian orang, hal tersebut merupakan hal penting dan tak boleh dilewatkan. Kita juga akan disuguhkan dengan keindahan Mataram masa lampau.


Keunggulan

Film ini menumbuhkan mental perjuangan anak bangsa. Mengingat, film ini dibuat sesuai dengan catatan sejarah. Hanung bramantyo dengan berani dan percaya diri menyuguhkan film yang sangat jarang sekali diminati orang ( dalam proses produksinya). Watak dari Hnung Bamantyo sebagai seorang sutradara ternama yang punya cara sendiri dalam mengendalikan Martinho Lio dan Adinia Wirasti sangatlah hebat. Mereka tampil memukau di layar kaca dan menuai banya sekali pujian. 
Scene peperangan dan konflik yang terjadi dapat menjadi pelajaran penting bagi kita semua. Selain itu, Hanung mampu membuat film ini benar - benar bernilai dengan pesan moral yang ada di dalamnya. Beberapa aktor dan aktris juga dapat menjadi karakte yang ditokohkan dengan baik. Mengingat, berperan menjadi anggota dari keraton haruslan penuh kehati - hatian. Oleh karena itu, saya mengapresiasi pemeran dan semua tim yang telah bekerja sama dalam pembuatan film ini.


Kekurangan


Setiap film tidak bisa terhindar dari yang namanya kesalahan dan lain sebagainya. Film ini dinilai kerap kali menampilkan adegan yang terlalu dramatis. Atau biasa disebut dramatisasi yang terlalu berlebihan. Sehingga, sekilas saya mengira ini film yang sedikit terlalu memaksa. 
Penggunaan bahasa jawa oleh beberapa tokoh juga dinilai terlalu kaku. Sehingga, hampir tidak sesuai dengan logat khas orang jawa. Ditambah dengan kurang gregetnya akting dari beberapa pemeran seperti: Adinia Wirasti (Lembayung dewasa) dan Christine Hakim (Ibu RM Rangsang)
Scene kematian Jan Pieterszoon Coen yang kurang memuaskan dan dinilai terlalu memaksa sangatlah mengganggu.


Rating

Film ini sangat cocok ditonton oleh kalangan remaja. Dengan demikian, para remaja bisa menghargai dan banyak belajar dari perjuangan Sultan agung di film ini. Meskipun terdapat beberapa kekurangan, tapi tetep kok Overall film ini kece.
Score: 8,5/10

Thursday, 20 February 2020

EDU PASSION "DARYASKARA"

HELLOOOOOO ! GUYYYSSS!!!!



welcome back to my blog. in this occasion, i would like to present our vlog with my friend, Azka  SMA NEGERI 3' S EVENT. that event is Edu Passion 'Daryaskara'

To see my video CLICK DI DIEU

Thursday, 23 January 2020

THE ORIGINS OF SURABAYA

SURABAYA

A long time ago in East Java there were two strong animals, Sura and Baya. Sura was a shark and Baya was a crocodile. They lived in the sea. Actually, they were friends. But when they were hungry, they were very greedy. They did not want to share their food. They would fight for it and never stop fighting until one of them gave up. It was a very hot day. Sura and Baya were looking for some food. Suddenly, Baya saw a goat. 
Yummy, this is my lunch,” said Baya.

“No way! This is my lunch. You are greedy! I had not eaten for two days!” said Sura.
Then Sura and Baya fought again. After several hours, they were very tired. Sura had a plan to stop their bad behavior.
“I’m tired of fighting, Baya,” said Sura.
Me too. What should we do to stop fighting? Do you have any idea?” asked Baya. 

Yes, I do. Let’s share our territory. I live in the water, so I look for food in the sea. And you live on the land, right? So, you look for the food also on the land. The border is the beach, so we will never meet again. Do you agree?” asked Sura. 
Hmm... let me think about it. OK, I agree. From today, I will never go to the sea again. My place is on the land,” said Baya.

Then they both lived in the different places. But one day, Sura went to the land and looked for some food in the river. He was very hungry and there was not much food in the sea. Baya was very angry when he knew that Sura broke the promise.
“Hey, what are you doing here? This is my place. Your place is in the sea!”
“But, there is water in the river, right? So, this is also my place!” said Sura.  Then Sura and Baya fought again. They both hit each other. Sura bite Baya's tail. Baya did the same thing to Sura. He bit very hard until Sura finally gave up. He went back to the sea. Baya was very happy. He had his place again.
The place where they were fighting was a mess. Blood was everywhere. People then always talked about the fight between Sura and Baya. They then named the place of the fight as Surabaya, it’s from Sura the shark and Baya the crocodile. People also put their war as the symbol of Surabaya city.

Sc:http://mahir-msoffice.blogspot.com/2016/03/the-legend-of-surabaya-dan-terjemahannya.html

QUIZ:
1) Who gave the name of the city of Surabaya ?

2) How many characters were there in the story ?

3) What is the storyline like ?

4) What was the Crocodille name ?

5) Where did Sura and Baya live before the fight ?

6) What was the border ?

7) Where did Sura and Baya live after the fight ?

8) Where did sura look for some food ?

9) Who did break the promise ?

10) What is the moral value of the text above ?



Thursday, 9 January 2020

THIS IS NOT AN ORDINARY HOLIDAY STORY

My Holiday Experience

Last holiday, me and my family went to Kediri. We visited many coffee shop there and build a convection business.

We went to Kediri Town. Why? because in Kediri Town there is my grand'ma house. Because my grand'ma house is quite big and large, me and my brother play football together. After we play football together, me and my brother usually invite my family to watch movies in cinema. In another day, me, my brother, and my sister play with our old friends. Sometimes we went to cinema, coffee shop, and each other. In the middle of the night, my brother and i had an idea to build a convection business. Because we have the same goal, The HWAT APPAREL finally formed.

I don't know why, but I think that was great idea. With HWAT APPAREL, I can get income while studying. And as a student i will not be disturbed. Because we want to market the product, we arranged a meeting with old friends and influential people that we will offer cooperation with our product. This is not as easy as imagined, negotiating with old friends and influential people is very difficult an takes a lot of time. Finally, HWAT APPAREL officially opened on the first of January 2020. 

This is not an ordinary holiday story. This is a holiday story that turned into a HWAT APPAREL story. I hope HWAT APPAREL can develop rapidly as times go by.

;)





Thursday, 5 December 2019

DIALOGUE


Derby: " Hi Ilyas, How are you ?"

Ilyas: " Hi Derby, Im great. How about you?"

Derby:" Im fine. By the way congratulation for graduated from Law Major from Havard University... Im proud of you! This is for you!"

Ilyas:" Thank you Derby, but will you come to my party tonight?"

Derby:" Im really sorry  i have to accompany my mom to a doctor"

Ilyas:" Thats alright, anyway thanks for the gift"

Derby:" No problem. Have a good time!"

Ilyas:" Goodbye"

Derby:" Bye"